LAMPUNG SELATAN - Operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jalan Lukah Krinjing RT/RW 004/004 Desa Kedaton 1 , Kecamatan Kalianda kabupaten Lampung Selatan, yang dikelola oleh Yayasan Aksi Rumah Inspirasi, menuai keluhan warga.
Masyarakat yang mengeluhkan dugaan bau busuk Itu, berasal dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan sampah, sehingga menimbulkan bau yang sangat tidak sedap, dikhawatirkan berdampak pada air sungai di lingkungan sekitar, pada hari Senin 11 Mei 2026.
Keluhan warga itu muncul seiring meningkatnya aktivitas dapur pada pagi hingga siang hari. Diduga Bau menyengat disebut kerap tercium di area permukiman masyarakat dan membuat warga merasa tidak nyaman.
Selain persoalan bau, warga juga mengkhawatirkan limbah cair dari aktivitas dapur yang berpotensi mencemari air sungai sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Pasalnya, hingga saat ini warga yang mengaku walaupun sudah ada penyaringan sistem pengolahan limbah namun’ baunya tetap menyengat dirasakan mereka.
Menurut warga, air buangan dari dapur diduga langsung dialirkan ke saluran pembuangan walaupun sudah melalui proses pengolahan sesuai standar sanitasi lingkungan.
"Programnya bagus, kami mendukung,Tapi dampaknya juga harus diperhatikan supaya tidak merugikan warga sekitar,” ujar salah seorang warga yang tidak mau menyebut inisialnya kepada pihak media.
Warga menilai setiap dapur SPPG seharusnya memenuhi ketentuan sanitasi, walaupun memiliki fasilitas IPAL untuk mengolah limbah sebelum dibuang ke lingkungan. Mereka khawatir apabila kondisi tersebut dibiarkan, akan menimbulkan persoalan kesehatan dan pencemaran air lingkungan di kemudian harinya.
Sementara itu, Saat dikonfirmasi oleh media ini, pemilik SPPG dapur malahan menanyakan balik, “Masyarakat nya siapa dan warga yang mana,” katanya mengeras.
Bahkan ia mengakui sudah ke tiga kalinya mendapatkan informasi pertanyaan yang sama terkait (bau yang tak sedap di SPPG miliknya).
Kendati begitu, ia pun ber alibi bahwa belum pernah mendapatkan keluhan dari masyarakat sekitar, bahkan Suami dari pemilik SPPG itu ber alasan. Bahwa Rt (rukun tetangga) nya sendiri pun sering main ditempat mereka,
"Jadi bingung juga kita ini, jadi bahasa-bahasa bau-bau busuk tak sedap itu dari mana,” ujar suami pemilik SPPG.
Awak Media ini kemudian berupaya mensurvey atau mengecek di lokasi pembuangan limbah SPPG itu, memang benar terdapat bau busuk yang sangat menyengat. Dan limbahnya juga terlihat mencemari perairan di Lingkungan setempat.
Namun’ pemilik SPPG malah menanyakan balik dasarnya dari mana hal yang mencemari air lingkungan tersebut, “karena ini soalnya kita bukan baru satu bulan, tetapi kita sudah beroperasi sembilan bulan, jadi sembilan bulan itu sudah ada empat kali di kontrol dari Dinas Kesehatan atau Puskes Way Urang dan pihak DLH, mereka rutin datang kesini dari dua bulan hingga tiga bulan sekali,” ucapnya pemilik dapur.
Bahkan suami pemilik SPPG itu pun juga mendesak media ini, untuk memberitahukan siapakah nama orang yang selalu melaporkan hal-hal bau busuk terkait dapur miliknya.
“Dan kalau ada yang memang tanggapannya dari warga setempat yang mengeluhkan hal tersebut siapakah orangnya, namanya siapa?.” Ucapnya dengan nada tinggi kepada jurnalis.
Kalau pun ada laporan dari masyarakat
"Maka kami juga akan segera melakukan perbaikan. Kemudian saya juga heran, kok yang diungkit-ungkit hal yang sama aja, bau tidak sedap” tutupnya.
Perlunya di ketahui publik, SPPG tersebut mencangkup pada pengiriman MBG berjumlah 15 sekolahan di Kecamatan Kalianda yang terhitung mencapai 2.021 siswa/siswi.
Meski demikian, warga berharap pemerintah Desa Kedaton, Kecamatan Kalianda, hingga dinas-dinas terkait dan Bupati Kabupaten Lampung Selatan segera turun untuk langsung melakukan pengecekan dilapangan.
Masyarakat sekitar meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan limbah dapur dan sampah agar program MBG tetap berjalan tanpa menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.
Warga menegaskan dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis tetap ada, namun’ pelaksanaannya diharapkan memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan kenyamanan masyarakat.
Tanggapan dari pemerintah desa Kedaton
Dilai sisi lain, Saat dikonfirmasi tim media ini pada hari Jum’at sore melalui sambungan telepon tanggal 15 Mai 2026, kepada desa Kedaton Junaidi S.E menjelaskan, bahwasanya, kades menyarankan pihak pemilik dapur agar segera menindaklanjuti terkait kelurahan dari warga sekitar biar tidak menimbulkan bau berkelanjutan dikemudian harinya.
“Saya menyarankan pemilik dapur segera menyikapi hal itu dan siap menerima kritik dan saran dari masyarakat, kerena kritik itu kan untuk membangun dan memperbaiki dapur tersebut agar bisa menjadi lebih baik,” tutupnya kades Kedaton Junaidi SE. (Red)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar