Portal Berita Online

Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan

Hari Jadi Ke-4, Pelindo Regional 3 Sampit Baksos pada Ribuan Anak Yatim Piatu dan Duafa


Sampit, – Pelindo Regional 3 Sampit melaksanakan kegiatan bakti sosial (Baksos) dalam rangka memperingati Hari Pelindo ke-4 yang jatuh pada 1 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Wilayah Kerja Pelindo. Secara total, Pelindo menyerahkan santunan kepada 5.000 anak yatim piatu dan dhuafa di berbagai wilayah, termasuk 100 anak di Sampit, Kalimantan, Rabu 1 Oktober 2025.


“Melalui momentum Hari Pelindo ke-4 ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim piatu 

di Kotawaringin Timur. Semoga santunan ini bisa membantu meringankan kebutuhan mereka serta memberi semangat dalam menjalani kehidupan. Pelindo tidak hanya hadir sebagai pengelola pelabuhan, tetapi juga berkomitmen untuk tumbuh bersama masyarakat,” ujar Tri Purbo Waluyojati.


Penyerahan santunan di wilayah Regional 3 Sampit berlangsung di Terminal Penumpang Pelindo Sampit. Momentum ini tidak hanya menjadi wujud kepedulian sosial, tetapi juga sebagai bagian dari komitmen Pelindo dalam membangun hubungan baik dengan masyarakat sekitar pelabuhan. Kegiatan berjalan khidmat dan penuh kehangatan bersama anak-anak penerima manfaat.


Acara penyerahan santunan di Regional 3 Sampit dilakukan secara simbolis oleh Junior Manager Pelayanan Terminal Pelindo Regional 3 Sampit didampingi oleh Senior Leader Pelindo Sampit dan Bagendang. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian perusahaan terhadap masyarakat, khususnya anak-anak yatim piatu dan dhuafa yang membutuhkan uluran tangan, tambahnya Tri Purbo.


Acara ini turut dihadiri oleh stakeholder, mitra kerja, serta perwakilan dari berbagai instansi yang berada di lingkungan Pelindo Group Sampit dan Bagendang. Kehadiran para mitra ini semakin menegaskan bahwa sinergi antara Pelindo dengan stakeholder tidak hanya dalam aspek bisnis, namun juga kepedulian sosial.


Kegiatan sosial ini sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan Pelindo selama empat tahun pasca integrasi pelabuhan. Melalui momentum Hari Pelindo, perusahaan terus berupaya menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, selain menjalankan fungsi utama dalam mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi.


Selain kegiatan sosial, momentum Hari Pelindo ke-4 juga dimanfaatkan untuk merefresh kembali peran dan pelayanan Pelindo Group, khususnya transformasi yang telah dijalankan dalam peningkatan kualitas jasa kepelabuhanan. Pelindo berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan yang lebih modern, efisien, dan berdaya saing guna mendukung kelancaran arus logistik nasional khususnya untuk kotawaringin Timur.


Dengan terlaksananya kegiatan santunan ini, Pelindo berharap dapat menumbuhkan rasa kebersamaan serta mempererat hubungan dengan masyarakat. Perayaan Hari Pelindo ke-4 pun menjadi lebih bermakna karena diwarnai dengan semangat berbagi dan kepedulian sosial yang akan terus dijaga di tahun-tahun mendatang.(umar) 

Share:

PalmCo dan Mitra Konservasi Terus Lanjutkan Program Perlindungan Orang Utan Kalimantan


Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui Sub Holding PTPN IV PalmCo sebagai Perusahaan yang dikenal mengelola ratusan ribu hektare perkebunan sawit baik Kebun Inti dan Kebun Plasma kini memperluas kontribusinya pada bidang konservasi, di tengah ancaman krisis habitat satwa liar di hutan tropis Kalimantan dengan mendukung program rehabilitasi Orang Utan Kalimantan yang terancam punah.


Melalui kemitraan dengan lembaga konservasi yaitu Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF), PalmCo mendukung proses rehabilitasi penuh bagi sejumlah Orang Utan, yang bernama Oka, Christina, dan Zahri. Ketiganya merupakan individu Orang Utan yang ditemukan dalam kondisi memprihatinkan, sebagian merupakan korban pemeliharaan ilegal, perdagangan, hingga perampasan habitat. Setelah melalui proses panjang, kini ketiganya menunjukkan kemajuan signifikan dan tengah memasuki tahap akhir sebelum kembali ke hutan bebas.


“Langkah ini adalah salah satu bagian dari komitmen kami untuk menjadikan keberlanjutan sebagai aksi nyata yang berdampak pada lingkungan dan spesies asli Indonesia,” ujar Jatmiko Santosa Direktur Utama PTPN IV Palmco dalam keterangan tertulisnya.


Ia menambahkan bahwa pelestarian spesies seperti Orang Utan harus dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab ekologis Perusahaan, bukan sekadar kegiatan filantropi.


Program konservasi yang didukung PalmCo bersama Foundation mencakup tahapan panjang dan kompleks. Orang Utan seperti Oka dan Christina harus menjalani karantina, pemeriksaan medis, hingga proses rehabilitasi yang dikenal sebagai Sekolah Hutan. Di sinilah mereka diajarkan kembali cara memanjat, mencari makanan alami, mengenali bahaya, dan hidup mandiri. Proses ini bisa memakan waktu hingga delapan tahun, sebelum mereka benar-benar siap untuk dilepasliarkan ke habitat alami yang aman dan terlindungi.


Oka misalnya, ditemukan dalam kondisi lemah dan positif hepatitis B pada tahun 2018. Setelah perawatan intensif dan pelatihan panjang di pusat rehabilitasi, ia kini dikenal sebagai penjelajah aktif di Pulau Bangamat, sering berpindah-pindah bersama teman-temannya. 


Christina, yang dulunya dipelihara dan diperlakukan selayaknya bayi manusia dan diberi makanan seperti nasi dan permen, kini sudah mandiri dan aktif menjelajah pohon-pohon tinggi di Pulau Salat. 


Sedangkan Zahri, Orang Utan jantan hasil sitaan dari warga kini dikenal sebagai penjelajah soliter yang cerdas dan tangguh, ahli dalam mencari pakan alam di hutan.


Seorang anggota tim rehabilitasi BOS Foundation Hendra Wijaya yang terlibat langsung dalam pengawasan ketiganya menyebutkan bahwa perkembangan mereka sangat menggembirakan. 


“Oka semakin berani menjelajah dan sudah membangun sarangnya sendiri. Christina kini lebih percaya diri, meski tetap cenderung menyendiri. Zahri bahkan sudah tidak terlalu bergantung pada platform pakan. Ketiganya menunjukkan insting liar yang kuat dan kesiapan untuk hidup bebas,” ucap Hendra Wijaya.


Kontribusi PalmCo terhadap upaya konservasi ini tak berdiri sendiri. Dalam skala yang lebih luas, perusahaan ini telah menguatkan posisinya sebagai pelaku industri yang serius dalam penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Pada Oktober 2024, PTPN IV PalmCo dinobatkan sebagai perusahaan dengan peringkat ESG tertinggi kedua di dunia dalam sektor kelapa sawit, menurut pemeringkatan S&P Global Corporate Sustainability Assessment (CSA).


Capaian ini menjadi semakin menonjol karena menempatkan PalmCo di peringkat 8 teratas dari total 386 perusahaan global sektor food product, dan menjadi yang tertinggi untuk kategori perusahaan agribisnis dari Asia Tenggara.


“Bagi kami, ESG tentang kepatuhan dan meletakkan masa depan industri ini di atas pondasi yang lestari,” sambung Jatmiko Santosa.


Ke depan, PalmCo juga tengah menyiapkan dukungan lanjutan terhadap inisiatif konservasi dan restorasi habitat bekerjasama Kembali dengan BOS Foundation. PalmCo juga secara bertahap mengintegrasikan penggunaan energi terbarukan melalui fasilitas biogas, serta memperkuat pelibatan masyarakat sekitar dalam menjaga ekosistem.


"Kolaborasi dengan lembaga konservasi ini diharapkan menjadi model yang bisa direplikasi oleh pelaku industri lain bahwa antara produksi dan pelestarian, tak perlu ada dikotomi. Karena dari kebun yang ditanam manusia dengan niat baik, semoga kita bisa ikut memulihkan masa depan alam, insyaallah," tutup Jatmiko Santosa.

Share:

Popular

NASIONAL$type=complex$count=4

Arsip Blog

Recent Posts