LAMPUNG SELATAN - Gelombang ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lampung Selatan terus memuncak.
Lembaga legislatif itu dinilai menutup mata dan telinga terhadap aspirasi warga, terutama terkait kondisi darurat lingkungan pasca-viral nya video fenomena longsor di Gunung Rajabasa.
Meskipun rekaman longsor tersebut telah memicu kekhawatiran massal akan potensi bencana alam yang lebih besar, hingga saat ini belum ada langkah konkret maupun pernyataan resmi dari para wakil rakyat di Kalianda.
Salah satu perwakilan masyarakat setempat mengungkapkan kekecewaannya atas sikap pasif DPRD yang dinilai hanya datang saat membutuhkan suara menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg).
“Kami bingung apa sebenarnya kemauan mereka. Apakah peduli hanya saat menjelang Pileg saja? Kami tidak butuh janji kampanye sekarang, kami butuh tindakan nyata karena kalian adalah wakil kami,” tegas warga yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut, Jumat (3/4/2026).
Ia menambahkan bahwa fenomena di Gunung Rajabasa seharusnya menjadi peringatan keras bagi pembuat kebijakan untuk segera bertindak sebelum jatuh korban jiwa.
Kelambanan respon ini dinilai kontras dengan fungsi pengawasan dan anggaran yang melekat pada DPRD. Masyarakat mendesak agar DPRD segera memanggil dinas terkait atau melakukan tinjauan lapangan (sidak) guna memastikan langkah mitigasi bencana berjalan efektif.
Kritik juga menyasar pola komunikasi satu arah para anggota dewan. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media melalui pesan instan kepada salah satu anggota dewan terkait isu ini pun tidak mendapatkan respon, meski pesan telah tersampaikan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pimpinan maupun komisi terkait di DPRD Lamsel.
Masyarakat mendesak agar lembaga legislatif segera keluar dari “zona nyaman” dan menunjukkan keberpihakan nyata kepada rakyat yang kini dirundung kecemasan akan keselamatan lingkungan mereka.
Fenomena longsor Gunung Rajabasa kini menjadi ujian bagi komitmen DPRD Lampung Selatan dalam menjalankan mandatnya sebagai penyambung lidah rakyat, bukan sekadar representasi politik saat musim pemilu tiba.(is)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar